Halaman

Minggu, 30 September 2012

prinsip dasar etika bisnis


Penerapan Korporasi dan Etika Bisnis dalam Perusahaan
Setiap orang tentu memiliki rencana tertentu. Entah itu terkait dengan target-target tertentu dalam pencapaian prestasi, atau yang hanya ingin menerapkan perilaku lebih baik daripada sebelumnya. Apapun, kalau kita merencanakan dengan baik, kita akan mendapatkan sesuatu dengan konkret.
Yang ingin saya tekankan di sini adalah bagaimana para pebisnis kita di tahun mendatang memiliki rencana untuk memperkokoh bisnis di negara kita dengan dilandasi etika bisnis. Mari kita menggelorakan semangat untuk berbisnis dengan bersih. Jangan sampai berbisnis dengan tamak sehingga membuat orang lain tidak nyaman.
Di Indonesia tampaknya masalah penerapan etika perusahaan yang lebih intensif masih belum dilakukan dan digerakan secara nyata. Pada umumnya baru sampai tahap pernyataan-pernyaaatn atau sekedar  “lips-service” belaka.  Karena memang enforcement dari pemerintah pun belum tampak secara jelas.

Sesungguhnya Indonesia harus lebih awal menggerakan penerapan etika bisnis secara intensif terutama setelah tragedi krisis ekonomi tahun 1998. Sayangnya bangsa ini mudah lupa dan mudah pula memberikan maaf kepada  suatu kesalahan yang menyebabkan bencana nasional sehingga penyebab krisis tidak diselesaikan secara tuntas dan tidak berdasarkan suatu pola yang mendasar. Sesungguhnya penyebab utama krisis ini, dari sisi korporasi,  adalah tidak berfungsinya  praktek etika bisnis secara benar, konsisten dan konsekwen. Demikian pula penyebab terjadinya kasus Pertamina tahun (1975), Bank Duta (1990)  adalah serupa.
Hal-hal tidak bersih itu dapat kita lihat di sekeliling kita setiap hari. Misalnya saja, bagaimana orang dijebloskan di penjara karena hanya mampu 'membayar' sedikit. Sedangkan orang yang membayar banyak bisa lolos.
Di bidang pajak, kasus-kasus suap tak bisa dihitung lagi. Padahal, kasus-kasus demikian diciptakan oleh orang bisnis sendiri. Para pebisnis maunya serba cepat. Apapun ditempuh agar urusan bisnisnya cepat selesai. Perilaku ini menular bagai virus. Maka, di tahun mendatang saya berharap jalur bisnis ditata satu per satu sehingga praktik bisnis bisa berlangsung secara bersih.
Saya mengumpamakan orang-orang yang berbisnis dengan tidak benar seperti orang yang bernapas dalam lumpur. Kenapa? Karena ada celah-celah yang membuat mereka mempraktikkan bisnis kotor. Kalau kemudian kita bertanya, 'Mengapa orang-orang seperti itu masih exist?' Karena, mereka lihai bagai belut.
Namun, tidak berarti saya mengecap semua pebisnis demikian. Ada orang-orang yang berani melawan arus. Mereka tidak mau ikut-ikutan mencari-cari celah sehingga berpraktik bisnis dengan kotor. Saya menyebut orang-orang seperti ini seperti 'bernapas di udara segar.' Mari bantu mereka agar tidak ikut-ikutan 'bernapas dalam lumpur.'Agar berani melawan arus yang tidak benar dalam bisnis orang harus berbekal etika bisnis.
Pengertian etika berbeda dengan etiket. Etiket berasal dari bahasa Prancis etiquette yang berarti tata cara pergaulan yang baik antara sesama menusia. Sementara itu etika, berasal dari bahasa Latin, berarti falsafah moral dan merupakan cara hidup yang benar dilihat dari sudut budaya, susila, dan agama.
Mempraktikkan bisnis dengan etiket berarti mempraktikkan tata cara bisnis yang sopan dan santun sehingga kehidupan bisnis menyenangkan karena saling menghormati. Etiket berbisnis diterapkan pada sikap kehidupan berkantor, sikap menghadapi rekan-rekan bisnis, dan sikap di mana kita tergabung dalam organisasi. Itu berupa senyum -- sebagai apresiasi yang tulus dan terima kasih, tidak menyalah gunakan kedudukan, kekayaan, tidak lekas tersinggung, kontrol diri, toleran, dan tidak memotong pembicaraan orang lain.
Dengan kata lain, etiket bisnis itu memelihara suasana yang menyenangkan, menimbulkan rasa saling menghargai, meningkatkan efisiensi kerja, dan meningkatkan citra pribadi dan perusahaan. Berbisnis dengan etika bisnis adalah menerapkan aturan-aturan umum mengenai etika pada perilaku bisnis. Etika bisnis menyangkut moral, kontak sosial, hak-hak dan kewajiban, prinsip-prinsip dan aturan-aturan.
Jika aturan secara umum mengenai etika mengatakan bahwa berlaku tidak jujur adalah tidak bermoral dan beretika, maka setiap insan bisnis yang tidak berlaku jujur dengan pegawainya, pelanggan, kreditur, pemegang usaha maupun pesaing dan masyarakat, maka ia dikatakan tidak etis dan tidak bermoral.
Mengapa etika bisnis dalam perusahaan terasa sangat penting saat ini?  Karena untuk membentuk suatu perusahaan yang kokoh dan memiliki daya saing yang tinggi  serta mempunyai kemampuan menciptakan nilai (value-creation) yang tinggi, diperlukan suatu landasan yang kokoh. Biasanya dimulai dari perencanaan strategis , organisasi yang baik, sistem prosedur yang transparan didukung oleh budaya perusahaan yang andal serta etika perusahaan yang dilaksanakan secara konsisten dan konsekwen.
Haruslah diyakini bahwa pada dasarnya praktek etika perusahaan akan selalu menguntungkan perusahaan baik untuk jangka menengah maupun jangka panjang karena :
-      Akan dapat mengurangi biaya akibat dicegahnya kemungkinan terjadinya friksi baik intern perusahaan maupun dengan eksternal.
-     Akan dapat meningkatkan motivasi pekerja.
-     Akan melindungi prinsip kebebasan ber-niaga.
-     Akan meningkatkan keunggulan bersaing.
Intinya adalah bagaimana kita mengontrol diri kita sendiri untuk dapat menjalani bisnis dengan baik dengan cara peka dan toleransi. Dengan kata lain, etika bisnis untuk mengontrol bisnis agar tidak tamak. Bahwa itu bukan bagianku. Perlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar