Penerapan Korporasi
dan Etika Bisnis dalam Perusahaan
Setiap
orang tentu memiliki rencana tertentu. Entah itu terkait dengan target-target
tertentu dalam pencapaian prestasi, atau yang hanya ingin menerapkan perilaku
lebih baik daripada sebelumnya. Apapun, kalau kita merencanakan dengan baik,
kita akan mendapatkan sesuatu dengan konkret.
Yang
ingin saya tekankan di sini adalah bagaimana para pebisnis kita di tahun
mendatang memiliki rencana untuk memperkokoh bisnis di negara kita dengan
dilandasi etika bisnis. Mari kita menggelorakan semangat untuk berbisnis dengan
bersih. Jangan sampai berbisnis dengan tamak sehingga membuat orang lain tidak
nyaman.
Di Indonesia tampaknya masalah penerapan etika perusahaan yang lebih
intensif masih belum dilakukan dan digerakan secara nyata. Pada umumnya baru
sampai tahap pernyataan-pernyaaatn atau sekedar “lips-service”
belaka. Karena memang enforcement dari pemerintah pun belum tampak secara
jelas.
Sesungguhnya Indonesia harus lebih awal menggerakan penerapan etika bisnis secara intensif terutama setelah tragedi krisis ekonomi tahun 1998. Sayangnya bangsa ini mudah lupa dan mudah pula memberikan maaf kepada suatu kesalahan yang menyebabkan bencana nasional sehingga penyebab krisis tidak diselesaikan secara tuntas dan tidak berdasarkan suatu pola yang mendasar. Sesungguhnya penyebab utama krisis ini, dari sisi korporasi, adalah tidak berfungsinya praktek etika bisnis secara benar, konsisten dan konsekwen. Demikian pula penyebab terjadinya kasus Pertamina tahun (1975), Bank Duta (1990) adalah serupa.
Sesungguhnya Indonesia harus lebih awal menggerakan penerapan etika bisnis secara intensif terutama setelah tragedi krisis ekonomi tahun 1998. Sayangnya bangsa ini mudah lupa dan mudah pula memberikan maaf kepada suatu kesalahan yang menyebabkan bencana nasional sehingga penyebab krisis tidak diselesaikan secara tuntas dan tidak berdasarkan suatu pola yang mendasar. Sesungguhnya penyebab utama krisis ini, dari sisi korporasi, adalah tidak berfungsinya praktek etika bisnis secara benar, konsisten dan konsekwen. Demikian pula penyebab terjadinya kasus Pertamina tahun (1975), Bank Duta (1990) adalah serupa.
Hal-hal
tidak bersih itu dapat kita lihat di sekeliling kita setiap hari. Misalnya
saja, bagaimana orang dijebloskan di penjara karena hanya mampu 'membayar'
sedikit. Sedangkan orang yang membayar banyak bisa lolos.
Di
bidang pajak, kasus-kasus suap tak bisa dihitung lagi. Padahal, kasus-kasus
demikian diciptakan oleh orang bisnis sendiri. Para pebisnis maunya serba
cepat. Apapun ditempuh agar urusan bisnisnya cepat selesai. Perilaku ini
menular bagai virus. Maka, di tahun mendatang saya berharap jalur bisnis ditata
satu per satu sehingga praktik bisnis bisa berlangsung secara bersih.
Saya
mengumpamakan orang-orang yang berbisnis dengan tidak benar seperti orang yang
bernapas dalam lumpur. Kenapa? Karena ada celah-celah yang membuat mereka
mempraktikkan bisnis kotor. Kalau kemudian kita bertanya, 'Mengapa orang-orang
seperti itu masih exist?' Karena, mereka lihai bagai belut.
Namun,
tidak berarti saya mengecap semua pebisnis demikian. Ada orang-orang yang
berani melawan arus. Mereka tidak mau ikut-ikutan mencari-cari celah sehingga
berpraktik bisnis dengan kotor. Saya menyebut orang-orang seperti ini seperti
'bernapas di udara segar.' Mari bantu mereka agar tidak ikut-ikutan 'bernapas
dalam lumpur.'Agar berani melawan arus yang tidak benar dalam bisnis orang
harus berbekal etika bisnis.
Pengertian
etika berbeda dengan etiket. Etiket berasal dari bahasa Prancis etiquette
yang berarti tata cara pergaulan yang baik antara sesama menusia. Sementara itu
etika, berasal dari bahasa Latin, berarti falsafah moral dan merupakan cara
hidup yang benar dilihat dari sudut budaya, susila, dan agama.
Mempraktikkan
bisnis dengan etiket berarti mempraktikkan tata cara bisnis yang sopan dan
santun sehingga kehidupan bisnis menyenangkan karena saling menghormati. Etiket
berbisnis diterapkan pada sikap kehidupan berkantor, sikap menghadapi
rekan-rekan bisnis, dan sikap di mana kita tergabung dalam organisasi. Itu
berupa senyum -- sebagai apresiasi yang tulus dan terima kasih, tidak menyalah
gunakan kedudukan, kekayaan, tidak lekas tersinggung, kontrol diri, toleran,
dan tidak memotong pembicaraan orang lain.
Dengan
kata lain, etiket bisnis itu memelihara suasana yang menyenangkan, menimbulkan
rasa saling menghargai, meningkatkan efisiensi kerja, dan meningkatkan citra
pribadi dan perusahaan. Berbisnis dengan etika bisnis adalah menerapkan
aturan-aturan umum mengenai etika pada perilaku bisnis. Etika bisnis menyangkut
moral, kontak sosial, hak-hak dan kewajiban, prinsip-prinsip dan aturan-aturan.
Jika
aturan secara umum mengenai etika mengatakan bahwa berlaku tidak jujur adalah
tidak bermoral dan beretika, maka setiap insan bisnis yang tidak berlaku jujur
dengan pegawainya, pelanggan, kreditur, pemegang usaha maupun pesaing dan
masyarakat, maka ia dikatakan tidak etis dan tidak bermoral.
Mengapa etika bisnis dalam perusahaan terasa sangat penting saat ini?
Karena untuk membentuk suatu perusahaan yang kokoh dan memiliki daya saing yang
tinggi serta mempunyai kemampuan menciptakan nilai (value-creation) yang
tinggi, diperlukan suatu landasan yang kokoh. Biasanya dimulai dari perencanaan
strategis , organisasi yang baik, sistem prosedur yang transparan didukung oleh
budaya perusahaan yang andal serta etika perusahaan yang dilaksanakan secara
konsisten dan konsekwen.
Haruslah
diyakini bahwa pada dasarnya praktek etika perusahaan akan selalu menguntungkan
perusahaan baik untuk jangka menengah maupun jangka panjang karena :
- Akan dapat mengurangi biaya akibat dicegahnya kemungkinan terjadinya friksi
baik intern perusahaan maupun dengan eksternal.
- Akan dapat meningkatkan motivasi pekerja.
-
Akan melindungi prinsip kebebasan ber-niaga.
-
Akan meningkatkan keunggulan bersaing.
Intinya adalah
bagaimana kita mengontrol diri kita sendiri untuk dapat menjalani bisnis dengan
baik dengan cara peka dan toleransi. Dengan kata lain, etika bisnis untuk
mengontrol bisnis agar tidak tamak. Bahwa itu bukan bagianku. Perlakukan orang
lain sebagaimana kita ingin diperlakukan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar